MEDIAMORFOSIS
Mediamorfosis adalah transformasi media komunikasi,
yang biasanya ditimbulkan kibat hubungan timbal balik yang rumit antara
berbagai kebutuhan yang dirasakan, tekanan persaingan dan politik, serta berbagai inovasi dan teknologi.[1]
Menurut Roger Fidler (2003), Mediamorfosis bukanlah sekedar teori
sebagai cara berpikir yang terpadu tentang evolusi teknologi media
komunikasi.
Mediamorfosis mendorong kita untuk memahami semua bentuk sebagai
bagian dari sebuah system yang saling terkait, dan mencatat berbagai
kesamaan dan hubungan yang ada antara bentuk bentuk yang muncul di masa
lalu, masa sekarang, dan yang sedang dalam proses kemunculannya. Media
baru tidak akan muncul begitu lama. Dan ketika bentuk bentuk media
komunikasi yang baru muncul, bentuk bentuk yang terdahulu biasanya tidak
mati – terus berkembang dan beradaptasi.
SEJARAH
Konsep mediamorfosis diperkenalkan Roger Fidler, Direktur Knight Ridder tentang New Media, pada tahun 1990
dalam judul artikelnya tentang masa depan koran. Roger Fidler diakui
secara internasional sebagai perintis media baru dan visioner. Dia
terkenal karena visinya mengenai surat kabar digital dan perangkat membaca mobile, pada tahun 1981. Pada tahun 1994,
timnya di laboratorium memproduksi sebuah video berjudul "The Tablet
koran: Sebuah Visi untuk Masa Depan" yang menunjukkan bagaimana orang
mungkin suatu hari membaca koran dan majalah di tablet.[2] Sebuah terobosan yang mengaitkan dirinya sebagai sosok yang sebenarnya “menemukan” iPad lebih dulu ketimbang Steve Jobs.[3]
Rangkaian Pemaparannya soal Mediamorfosis bertujuan untuk sebanyak
mungkin mengurangi keangkeran teknologi teknologi media yang baru dan
memberikan suatu struktur guna memahami pengaruh pengaruh potensial
mereka terhadap bentuk bentuk media utama yang popular – koran, majalah, televisi, dan radio.[1]
Apa itu media baru?
Terry Flew (2005) medefinisikan Media baru sebagai kombinasi dari
format 3Cs yaitu computing and information technology (IT),
communication networks, dan digitize media and information content.
Media baru konsisten dengan pembelajaran teknologi media yang merujuk
pada kebutuhan untuk menyadari bagaimana mediasi dalam komuniksi lewat
format teknologi mengubah komunikasi dalam praktek social.[4]
Sementara, Lievrouw dan Livingstone (2002) mengobservasi bahwa ada
beberapa cara berpikir tentang media baru yang perlu untuk dimasukkan
dalam tiga elemen, yaitu : alat yang memungkinkan atau memperluas
kemampuan kita untuk berkomunikasi, kegiatan komunikasi dan prakteknya
dikaitkan dalam perkembangan dan penggunaan alat alat tersebut, arahan
arahan social dan organisasi yang membentuk alat alat dan praktik media
baru.[5]
KONSEP MEDIAMORFOSIS
Lebih lanjut, Fidler memaparkan 3 konsep mediamorfosis yaitu :
- KOEVOLUSI
Kode kode komunikator. Sifat sifat dasar media diwujudkan dan diteruskan melalui kode kode komunikator yang kita sebut bahasa. Bahasa,
tanpa harus dibandingkan satu sama lain, telah menjadi agen perubahan
yang paling berpengaruh dalam rangkaian evolusi manusia. perkembangan
bahasa lisan dan tulisan melahirkan dua transformasi besar, atau
mediamorfosis, dalam system komunikasi manusia. Mediamorfosis ketiga
yang siap mempengaruhi evolusi komunikasi dan peradaban secara radikal
adalah bahasa digital. Bahasa ini merupakan lingua franca computer dan
jaringan telekomunikasi global.
Domain domain komunikasi. Sejak kelahiran bahasa tulis, berbagai
bentuk media terus berkoevolusi dalam tiga jalur yang berbeda, yang
disebut domain. Bahasa digital telah mentransformasikan bentuk bentuk
media komunikasi yang ada. Inilah agen perubahan yang paling
bertanggungjawab atas pengaburan perbedaan perbedaan diantara domain
domain historis komunikasi.
- KONVERGENSI
Konvergensi selalu menjadi esensi evolusi
dan proses mediamorfosis. Konvergensi berskala besar dalam industry
media dan telekomunikasi, mungkin hanya terjadi sekali. Namun bentuk
bentuk media yang ada saat ini pada kenyataannya merupakan hasil dari
konvergensi konvergensi berskala kecil yang tidak terhitung banyaknya,
yang seringkali terjadi sepanjang waktu. Konvergensi lebih menyerupai
persilangan atau perkawinan, yang menghasilkan transformasi atas masing
masing entitas yang bertemu dan penciptaan entitas baru.
Tim Dwyer (2010), mendefinisikan konvergensi media sebagai proses dimana berbagai teknologi yang baru digabungkan dengan media media yang telah ada dan berbagai industri komunikasi serta budaya yang berkembang.[6]
Mengambil contoh konvergensi hiburan yang dilakukan Transmedia adalah
mytrans.com, yang menggabungkan media televisi dan media internet. Bila
selama ini kita menikmati acara televisi dengan duduk diam disatu tempat
sambil memandangi layar televisi, kini ada cara berbeda yang
ditawarkan. Berbagai acara yang ditayangkan di TransTV dan Trans7
bisa disaksikan melalui gadget berupa smart atau mobile phone ataupun
perangkat lain. Cukup dengan terkoneksi pada jaringan internet. Ada juga
produk lain yaitu DetikTV (tv.detik.com), yang menggabungkan media
cetak, media televisi, dan internet.
- KOMPLEKSITAS
Teori Chaos. Chaos adalah komponen penting perubahan. Tanpanya, alam
semesta akan menjadi tempat kematian dan kehidupan menjadi tidak
mungkin. Dari kondisi chaos, lahir gagasan gagasan baru yang
mentransformasikan dan menghidupkan system system. Prinsip utama teori
chaos kontemporer adalah gagasan bahwa kejadian kejadian yang terkesan
tidak signifikan atau variasi variasi awal yang remeh dalam system
system yang mengalami chaos. Seperti cuaca dan ekonomi, dapat memicu
peningkatan eskalasi kejadian kejadian tak terduga yang akhirnya
mengarah pada kejadian kejadian yang melahirkan dampak atau membawa
bencana besar. System system yang mengalami chaos pada dasarnya anarkis.
System system itu menunjukkan ketidakpastian yang nyaris tak berujung
dengan pola jangka panjangnya yang tidak terduga. Hal ini juga
menjelaskan mengapa tidak seorangpun mampu memprediksi secara akurat
teknologi teknologi media baru dan bentuk bentuk komunikasi manakah yang
akhirnya akan sukses dan manakah yang akan gagal.
Sistem yang adaptif dan kompleks. Kekayaan interaksi yang terdapat
dalam system system kehidupan, memungkinkannya menjalani
pengorganisasian diri secara spontasn. Dengan kata lain, system system
yang kompleks bersifat adaptif, yaitu bahwa system system itu hanya
merespon kejadian secara pasif. System system itu secara aktif berusaha
mengarahkan apapun yang terjadi untuk mendapatkan keuntungan. Dengan
demikian, kita dapat melihat bahwa semua bentuk media hidup dalam dunia
yang dinamis dan saling tergantung. Ketika muncul tekanan tekanan
eksternal dan penemuan penemuan baru diperkenalkan, setiap bentuk
komunikasi dipengaruhi oleh proses pengorganisasian diri yang muncul
secara spontan. Sama seperti spesies yang berkembang demi kelangsungan
hidup yang lebih baik, demikian jugalah yang dilakukan bentuk bentuk
komunikasi dan perusahaan perusahaan media yang ada. Proses inilah yang
menjadi esensi mediamorfosis.
PRINSIP DASAR MEDIAMORFOSIS
Radio AM yang tidak sepenuhnya tenggelam akibat kemunculan radio FM,
dan justru mengadopsi teknologi dan strategi pemasaran baru,
menggambarkan prinsip kunci mediamorfosis. Contoh lain adalah ketika
penyebaran TV semakin merajalela, radio, surat kabar, majalah dan film
mendapat hantaman keras. Namun pada kenyataannya masing masing mereka
terbukti ulet dan dapat beradaptasi. Hal ini menggambarkan akibat wajar
yang penting dalam prinsip mediamorfosis, yaitu bentuk bentuk komunikasi
yang ada harus berubah dalam menghadapi kemunculan media baru. karena
kalau tidak, satu satunya pilihan adalah mati.
Dari ketiga konsep tadi, Fidler kemudian menjabarkannya dalam 6 prinsip dasar mediamorfosis, yaitu:[1]
- Koevolusi dan koeksistensi.
Semua bentuk media komunikasi hadir dan berkembang bersama dalam
system yang adaptif dan kompleks, yang terus meluas. Begitu muncul dan
berkembang, setiap bentuk baru dalam beberapa waktu dan hingga tingkat
yang beraneka ragam, mempengaruhi perkembangan setiap bentuk yang lain.
Salah satu contoh adalah media online detikcom. Setelah sukses sebagai
portal berita, kini mereka merintis kanal detiktv yang merupakan
konvergensi internet dan televisi, dan mytrans.
- Metamorfosis.
Media baru tidak muncul begitu saja dan terlepas dari yang lain.
Semuanya muncul secara bertahap dari metamorphosis media terdahulu.
Ketika bentuk bentuk yang lebih baru muncul, bentuk bentuk terdahulu
cenderung beradaptasi dan terus berkembang, bukan mati. Di Indonesia,
contoh yang bisa kita lihat, adalah Kompas. Sebagai salah satu media
cetak terbesar, Kompas membuka portal internet, dan memberikan perhatian
yang cukup besar atas ini. Selain Kompas, Tempo juga memiiliki situs
berita tempointeraktif.com.
- Pewarisan.
Bentuk bentuk media komunikasi yang bermunculan mewarisi sifat sifat
dominan dari bentuk bentuk sebelumnya. Sifat sifat ini terus berlanjut
dan menyebar melalui kode kode komunikator yang disebut bahasa.
- Kemampuan bertahan.
Semua bentuk media komunikasi dan perusahaan media komunikasi dan
perusahaan media dipaksa untuk beradaptasi dan berkembang agar tetap
dapat bertahan dalam lingkungan yang berubah. Satu satunya pilihan lain
adalah mati. Salah satu contoh adalah majalah berita mingguan terkenal,
Newsweek yang ditutup pada 30 Desember 2012 dan fokus dalam format
online (mulai aktif pada 4 Januari 2013), yang diberi nama Newsweek
Global.[7].
- Peluang dan kebutuhan.
Media baru tidak diadopsi secara luas lantaran keterbatasan
keterbatasan teknologi itu sendiri. Pasti selalu ada kesempatan dan
alasan alasan social, politik, dan atau ekonomi yang mendorong teknologi
media baru untuk berkembang.
- Pengadopsian yang tertunda.
Teknologi teknologi media baru selalu membutuhkan waktu yang lebih
lama daripada yang diperkirakan untuk mencapai kesuksesan bisnis.
Teknologi teknologi itu cenderung membutuhkan sedikitnya satu generasi
manusia (20-30 tahun) untuk bergerak maju dari rancangan konsep hingga
perluasannya pengadopsian atasnya.
DOMAIN DOMAIN MEDIA KOMUNIKASI
Domain media komunikasi merupakan sarana untuk menggali dan
membandingkan kualitas kualitas yang ada dalam masing masing cabang
utama system komunikasi manusia. Roger Fidler mengelompokkannya dalam 3
domain. Yaitu :[1]
- Domain Interpersonal.
Termasuk bentuk komunikasi lisan/ ekspresif satu lawan satu yang
isinya tidak terstruktur atau dipengaruhi oleh perantara perantyara
eksternal. Juga termasuk komunikasi komunikasi antara manusia dengan
computer yang bertindak sebagai pengganti manusia.
- Domain Penyiaran.
Termasuk bentuk bentuk komunikasi audio/visual dari yang sedikit
kepada yang banyak dengan perantara, isinya sangat terstruktur dan
disajikan kepada hadirin secara urut dari awal sampai akhir dalam lokasi
lokasi yang relative tetap dan dalam periode periode waktu yang
terjadwal dan ditentukan sebelumnya.
- Domain dokumen.
Termasuk bentuk bentuk komunikasi tekstual/ visual dari yang sedikit
kepada yang banyak dengan perantara yang isinya dikemas dan disajikan
kepada individu individu terutama melalui media portable. Juga termasuk
bentuk bentuk elektronik berbasi halaman yang ditempatkan dalam jaringan
computer, misalnya World Wide Web.
Ciri ciri yang mencirikan domain domain ini telah terbentuk selama
ribuan tahun oleh dua agen perubahan yaitu bahasa lisan dan bahasa
tulisan. Dalam setiap metamorfosis yang mengikuti perkembangan dan
penyebaran agen agen ini, muncul media baru dan media yang sudah ada
mengalami perubahan didalam masing masing domain. Tapi sejak tahun
1970an, penyebaran bahasa digital yang terjadi dengan cepat dalam ketiga
domain tersebut telah memberi kita suatu babak baru yang radikal dalam
mempercepat evolusi dan ekspansi system komunikasi manusia. Suatu babak
yang disebut sebagai era rekayasa digital. Walau ciri ciri gabungan yang
muncul dari rekayasa digital agak berkurang perbedaannya, mereka masih
akan mempengaruhi asas asas mediamorfosis media. Yaitu transformasinya
akan dipengaruhi oleh saling pengaruh yang rumit antara kebutuhan
kebutuhan yang muncul, tekanan tekanan kompetitif dan politis dan
inovasi social dan teknologis.[1]
GARIS WAKTU KOMUNIKASI MANUSIA
- Bahasa Ekspresif dan Alat alat komunikasi :
Homo Sapiens Sapiens (manusia modern)
- Bahasa Lisan dan Mediamorfosisi pertama:
Lukisan goa di Eropa selatan, akhir zaman es, kemunculan komunitas
komunitas agricultural besar, zaman perunggu dimulai dari Asia kecil.
- Bahasa Tulisan dan Mediamorfosis kedua:
Kemunculan kekaisaran kekaisaran kuno; pengembangan teknologi teknologi dokumen;
buku tulusan tangan dan perpustakaan; jalanan Romawi dan layan pos;
pengembangan seni cetak dan kertas bubur kayu di Asia; pengembangan
kertas bubur kayu di Eropa; Renaisans Eropa dimulai di Italia; Revolusi
perdagangan; surat berita dan buku berita tulisan tangan; pengembangan
seni mencetak di Eropa; koran majalah dan buku cetakan; Revolusi Industri.
- Bahasa Digital dan Mediamorfosis ketiga:
Aplikasi listrik untuk komunikasi; komunikasi radio, gambar hidup;
telepon jarak jauh antar benua; radio siaran, mesin faksimili radio;
televisi siaran; computer mainframe; televisi kabel,
kabel telepon transatlantic pertama; ARPANET, surat elektronik;
satelit, komunikasi gelombang cahaya, video game; mikroprosesor,
computer pribadi, VCR; mesinfax digital, CD; radio dan TV digital;
realitas virtual dan system konferensi video; WWW; mosaic “net browser”,
program gresek.
HIPOTESIS TAHAP MEDIAMORFOSIS SELANJUTNYA
Dalam perode yang sangat singkat, mediamorfosis ketiga yang dimulai
dari agen agen perubahan teknologi yang kuat, telah mendapat pengaruh
besar terhadap hampir semua individu, masyarakat, dan budaya. Gagasan
manusia tentang jarak, waktu, dan realitas telah diubah secara radikal
oleh bentuk bentuk media baru yang baru saja muncul.
Persaingan memerebutkan konsumen dan uang dari iklan terus terjadi
dengan begitu sengitnya. Semua perusahaan media berjuang bukan saja
menghadapi satu sama lain, tetapi juga menghadapi tata ekonomi yang
berubah, pesaing pesaing baru yang kuat, peningkatan keragaman social,
ekonomi dan rasial, sistem pendidikan yang selalu berubah dan kekurang
biasaaan membaca, dan public yang tampaknya semakin tidak percaya akan
media massa. Salah satunya adalah masalah media cyber.[1]
Semua ini membawa kita pada tahap metamorphosis besar. Walau telah
berlangsung lebih dari satu abad, teknologi media cyber yang penting
masih baru saja melintas dari tahap pertama –Paul Saffo “jumlah waktu
yang dibutuhkan untuk ide ide baru sampai sepenuhnya masuk ke masyarakat
adalah sekitar 3 dekade selama 5 abad terakhir” ke tahap kedua saat
teknologi itu memasuki masyarakat. Bahwasanya dalam dasawarsa mendatang, kita akan memasuki tahap ketiga, ketika media cyber akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari hari.
Bagi perusahaan media massa yang sudah mapan, tahap berikutnya dari mediamorfosis besar ketiga pastilah akan menyakitkan.[1]
Sebuah masa yang sama yang dihadapi para pembuat dan pemasok kereta
satu abad silam. Ketika mobil bertenaga bensin pertama muncul pada awal
tahun 1890an, hanya sedikit pembuat kereta yang percaya kendaraan
tersebut akan menggantikan kereta kereta yang ditarik kuda. Sebagian
besar berpendapat bahwa mobil hanyalah barang mainan orang kaya. Dan
jalan jalan yang memenuhi syarat dan stasiun pengisian bensin memerlukan
beberapa generasi untuk membangunnya. Namun apa yang terjadi? Dalam
tiga dasawarsa, kebanyakan perusahaan yang membuat kereta dan
perlengkapannya telah berubah menjadi pembuat mobil. Ada juga yang
beralih ke pekerjaan lain, bahkan bangkrut.
BELAJAR DARI KEGAGALAN
Dewasa ini banyak perusahaan yang pasrah bahwa bisnis bisnis mereka sedang mengalami perubahan besar yang diakibatkan oleh teknologi digital.
Namun, asas asas mediamorfosis paling tidak bisa sedikit menghibur.
Bagaimanapun menjanjikannya suatu visi media baru, Asas adopsi tertunda
menyatakan bahwa implementasi dan adopsi meluasnya akan memerlukan waktu
yang lebih lama dibandingkan dengan yang diramalkan kebanyakan
visioner. Biasanya, prosesnya memerlukan paling sedikit satu generasi
manusia. Asas koevolusi dan koeksistensi, juga menunjukkan bahwa bentuk
bentuk komunikasi lama masih mampu kerkoeksistensi dengan bentuk bentuk
baru untuk waktu lama. Asas kelangsungan hidup menunjukkan bahwa bentuk
bentuk lama akan beradaptasi dan terus berkembang didalam domain domain
mereka, bukannya mati begitu muncul bentuk bentuk baru.[1]
Meski demikian, Fidler mengingatkan, bahwa adanya asas asas ini tidak
berarti kita kehilangan kewaspadaan. Walau teknologi media baru
memerlukan waktu yang lama, penyebaran bisa terjadi begitu cepat saat
sebuah medium dipandang oleh individu dan masyarakat memenuhi kebutuhan
kebutuhan atau berbagai keinginan mereka dengan harga yang pantas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar